Home » Desain Arsitektur

Rumah Banjar – Rumah Bubungan Tinggi

- -

Kebudayaan orang Banjar dari Kalimantan Selatan memiliki harta karun dalam bentuk rumah-rumah adat dengan nilai seni tinggi. Yang paling indah dan megah dari tipe rumah ialah Rumah Banjar atau  Rumah Bubungan Tinggi yg merupakan istana atau tempat tinggal Sultan, serta mempunyai bentuk atap yang melikiki ujung lancip 45o. Sekarang, tempat tinggal tradisional tersebut nyaris punah sampai membuat empat orang pengusaha Janti Soekirman, Farida M.Harun, Pudji W. Purbo dan Ira E. Andamara merasa prihatin.

Melalui dikoordinasikan Farida, mereka ini segera datang ke Martapura guna membeli dan mencari Rumah Bubungan Tinggi yang sudah reyot lalu memperbaikin dan me-renovasi rumah  tersebut menjadi Vila Tradisional pribadi di  Gunung Geulis, Ciawi Jabar. Setiap bagian rumah tua tersebut dibongkar, dan diberi kode serta dibawa ke Jakarta, sekaligus dengan tukang setempat yang tentunya lebih paham mengenai seluk beluk Rumah Adat Dari Banjar. Proses yang telah berlangsung sejak 2 tahun lalu ini berpedoman kepada aturan asli dari rumah adat tersebtu dan sedikit melakukan modifikasi dibeberapa bagian supaya sesuai dengan kebutuhan saat ini. Farida bersama teman-teman juga mencari informasi mengenai rumah adat tersebut, antaranya dari seorang budayawan H.M. Syamsiar Seman.

Kalau dilihat dari bentuknya yang simetris, rumah Bubungan Tinggi dari Banjar ini bermakna filosofi yang seimbang dalam aspek ke istanaan jaman dulu. Seperti tubuh manusia, bangunan ini juga terbagi ke dalam tiga bagian secara vertikal, atap merupakan kepalanya, ruangan yang ada sebagai badan serta tiang sebagai kaki, dan bagian anjung merupakan tangannya. Oleh karena keadaan di alamnya yang berawa-rawa di pinggiran sungai, rumah tersebut di desain menggunakan konstruksi panggung serta lantainya yang berada lebih tinggi dari permukaan tanah. Struktur dasar dari bangunan Desain Rumah Adat Banjar sendiri (yaitu kolom atau tiang) terdiri dari pondasi terbuat daripada kayu Kapur Naga. Bagian lainnya dari rumah, misalnya dinding dan lantai terbuat dari bahan papan kayu ulin, dan penutup atapnya ber-bahan sirap serta kerangkanya juga dari bahan kayu ulin.

Dalam usaha revitalisasi, bagian utama Desain Rumah Bubungan Tinggi misalkan atap, dinding serta tiang-tiang kolomnya masih dipertahankan, tapi elemen lain diubah menyesuaikan kebutuhan penghuni saat ini. Seperti, tiang penopang yang dibuat lebih tinggi 2,8 m, ini agar ruang kolong rumah dapat dimanfaatkan untuk aktifitas sehari-hari. Susunan dari ruang rumah ini yg bersifat berjenjang, hirarkis dan simetris menyesuaikan tata karma adat setempat, dapat terlihat pada penerapan perbedaan ketinggian lantai yg semakin tinggi kearah tengah dari rumah itu sendiri. Kondisi ini merasa harus dipertahankan, termasuk ruang utamanya yang persis berada di bawah atap yang tinggi dan merupakan kamar tidur sang raja saat itu.

Ornamen, aksesoris dekorasi rumah adat yg bersumberkan ajaran Islam spt ukiran motif floral yg dikaligrafi dan distilasi pada bagian tiang serta tangga berwarna hijau. Warna merah dan kuning yang mendominan juga tetap dipertahankan. Lewat rumah adat revitalisasi ini mereka berharap supaya cara pandang  masyarakat umum, terutama masyarakat Banjar serta generasi mudanya berubah dan lebih bersyukur dan menghargai Rumah Tradisional Banjar  warisan peninggalan nenek moyang kita ini.

rumah-banjar-bubungan-tinggirumah-bubungan-tinggirumah-dari-banjar

interior-rumah-banjarmodel-rumah-banjarrumah-adat-banjar

desain-rumah-adat-dari-banjar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Griya-Asri

Baca Artikel Menarik Lainnya...!